Archive for the '4.Sejarah Demak' Category



16
Agu
11

> Baruklinting & Nyai Lembah (bagian 1)

DIAWALI dengan puja semedi Sang Ratu Shima, penguasa kerajaan Tertua di pulau Pulau Jawa, Kerajaan Kalingga. Di ikutilah petunjuk dari yang maha kuasa untuk segera mendirikan Candi sebagai tempat pemujaan kepada Shang yhang Widhi sebagai penganut Agama Hindu, maka pada suatu hari berangkatlah rombongan pencarian Gunung Suralaya, atau gunung Ngungrungan, atau Gunung Ungaran, disana dipercaya sebagai pesanggrahan para dewa.

foto kompasDalam perjalanan nya sebagai pemimpin rombongan adalah Ki Ajar Salokantoro (Saloka Antara) Seorang pendeta agama hindu yang Tampan rupawan dan gagah perkasa. Pada suatu tempat sang Begawan melarang untuk melakukan apapun, pada tempat tersebut di namakan Dusun Larangan, kemudian dalam perjalanan lebih keatas lereng gunung tersebut ada tempat yang berbau harum, yang dinamakan dusun Darum, dan sampailah pada tempat yang dituju disana Rombongan melakukan Puja Semedi dengan Munutup Babahan Hawa Songo (sembilan lubang pada Tubuh Manusia) atau Nggedong Babahan Howo Songo (Nggedong Artinya Mengikat=Nggedong Bayi) maka sampai sekarang nama tersebut terkenal dengan nama Gedong Songo. Lanjutkan membaca ‘> Baruklinting & Nyai Lembah (bagian 1)’

Iklan
14
Agu
11

> Banjir Pantura dalam Sejarah

  • Oleh Hasyim Asy’ari

SETIAP musim hujan tiba, cerita tentang banjir dan kerusakan jalan di sepanjang pantai utara (pantura) bagian timur Jawa Tengah menjadi klasik. Keluhan pengguna jalan tentang kerusakan ruas jalan di pantura timur menjadi berita sehari-hari di media massa.

Jalan rusak akibat banjir hampir selalu menimpa ruas jalan yang menghubungkan Semarang-Demak-Kudus, Semarang-Grobogan (baik lewat Mranggen maupun Demak-Godong), dan jalur Kudus-Pati-Juwana-Rembang.

Jangankan pada musim hujan, saat kemarau pun ruas-ruas jalan itu juga selalu bergelombang, rawan longsor /  amblas, dan labil. Otoritas pemelihara jalan tiap tahun harus menganggarkan biaya untuk mengembalikan fungsi jalan agar selalu dapat dilintasi, walau upaya itu sekedar menutup lubang-lubang jalan, bukan menjaga kestabilan jalan.
Tentu saja kondisi ini mengundang pertanyaan, mengapa ruas jalan sepanjang pantura timur Jawa Tengah rawan banjir, bergelombang dan labil? Tulisan ini hendak memberikan penelusuran sejarah singkat untuk menjelaskan kondisi rawan banjir di ruas jalan pantura timur Jawa Tengah itu.

Pulau Muria

Fakta yang mengejutkan, dan selama ini belum terlalu mengemuka, adalah Gunung Muria dulu merupakan pulau yang terpisah dari Jawa. Sebelum abad ke-17, Muria dan Jawa dihubungkan oleh sebuah selat. Lanjutkan membaca ‘> Banjir Pantura dalam Sejarah’

11
Agu
11

> Masjid Tiban Wonokerso, Didirikan Para Wali

PEMERINTAH melalui Dinas Purbakala, sejak tahun 2002 memutuskan Masjid Tiban Wonokerso Desa Sendangrejo Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri, sebagai bangunan bersejarah. Keberadaannya diproteksi dengan Undang-undang (UU) Kepurbakalaan nomor: 5 tahun 1992, dan dalam pengawasan Dirjen Kebudayaan Direktorat Perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Indonesia.

Masjid Tiban, menjadi bangunan masjid tertua di Kabupaten Wonogiri. Letaknya sekitar 40 kilometer arah selatan ibukota Kabupaten Wonogiri. Masjid yang didirikan para wali ini, keberadaannya diyakini lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Demak. Sebab, lebih  dulu ada sebelum masjid legendaris karya para wali di Demak dibangun.

Konon, Masjid Tiban Wonokerso, dijadikan maket sebelum menentukan bentuk, wujud, dan prototipe bangunan Majid Agung Demak. Dalam buku Sekitar Wali Sanga, karya Solichin Salam (penerbit Menara Kudus), ada beberapa versi tentang tanggal dan tahun pendirian Masjid Demak. Ada yang menyakini dibangun Kamis Kliwon malam Jumat Legi tanggal 1 Dulqoidah tahun Jawa 1428. Lanjutkan membaca ‘> Masjid Tiban Wonokerso, Didirikan Para Wali’

04
Agu
11

> Desa Bungo Gelar Kirab Budaya Dan Larung Sesaji Sambut Ramadhan

Warga Desa Bungo Kecamatan Wedung menggelar kirab budaya dan larung sesaji, Selasa-Rabu (26-27/7). Kegiatan tersebut dalam rangka menyambut Ramadhan, sekaligus memperingati Haul Mbah Panji Kusumo yang dipercaya sebagai pendiri cikal bakal Desa Bungo.

Dalam kirab budaya, seribuan warga mulai dari orang tua, muda-mudi dan anak-anak ikut ambil bagian. Mereka ada yang berpakaian adat jawa, ada pula yang mengenakan busana muslim. Mereka yang berperan sebagai pasukan kerajaan Demak Bintoro mengarak dua buah gunungan setinggi 1,5 meter. Gunungan itu berisi berbagai hasil bumi dan laut desa setempat. Lanjutkan membaca ‘> Desa Bungo Gelar Kirab Budaya Dan Larung Sesaji Sambut Ramadhan’

11
Jul
11

Budaya Keris Era Kerajaan Demak & Asal Muasal Wedung

“……..Ketika Majapahit mulai rapuh (1480 M), Demak Bintoro mulai memiliki pengaruh di wilayah pesisir utara Jawa seperti Jepara, Kudus, Juwana, Pati dan lain lainnya. Demak merubah tatanan kerajaan Hindu-Budha menjadi bernafas Islam. Wali sembilan (Wali Songo) dalam upaya meng’islam’kan Jawa menggunakan cara dengan bersikap toleransi terhadap budaya masyarakat lingkungannya. Muncul nama Sunan Kalijaga sebagai wali yang pandai menggubah kesenian daerah dan menciptakan hiburan rakyat dan permainan anak-anak dalam rangka siar Islam… “. (
Kalijaga seniman Jawa; Makalah, GedungStovia-Jakarta, H. Deddylskandar 1988).

Catatan lain menyatakan bahwa Majapahit tidak runtuh oleh serangan dari kerajaan Demak Bintoro, melainkan mengalami pengeroposan dari dalam pemerintahannya. Ada beberapa sebab yang membuat Majapahit goyah, antara lain : Seringnya terjadi bencana alam, Canggu sebagai pelabuhan terbesar Majapahit, rusak fatal diterpa bencana alam (James Nash; 1932). Perang Paregreg merupakan perebutan kekuasaan yang berakibat kondisi ekonomi kacau, jurang kaya miskin melebar dan sering terjadi kerusuhan anarkis karena meruncingnya perbedaan paham kepercayaan. (DR. HJ. de Graaf; Java in the 14th Century, 1960).
Lanjutkan membaca ‘Budaya Keris Era Kerajaan Demak & Asal Muasal Wedung’

13
Mei
11

Awal Terbentuk nya Kadilangu (Demak)

1. Pertama

Pada zaman Kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Prabu Brawijaya V, Raden Patah bersama dengan adiknya Aryo Bangah pergi dari Palembang ke Jawa dengan maksud mengabdi kepada Prabu Brawijaya V. Dalam perjalanan menuju Majapahit, mereka lebih dahulu berguru pada Sunan Ngampel (di Daerah Gresik). Setelah selesai berguru, Arya Bangah kemudian diangkat menjadi Adipati Terung. Tetapi Raden Patah (atas petunjuk gurunya) pergi ke arah barat untuk mendirikan masjid dan menyebarkan ajaran Islam.

Sampai di suatu hutan belukar terdapat rumput yang berbau wangi, Kemudian Raden Patah berhenti dan membuka hutan tersebut, serta mendirikan pemukiman dan membuat tanah pertanian. Daerah tersebut oleh Raden Patah di beri nama Glagahwangi. Dalam waktu singkat daerah tersebut menjadi daerah pemukiman dengan tanah pertanian yang sangat luas dan berganti nama menjadi Bintoro.

Prabu Brawijaya yang mengetahui hal itu, lalu mengukuhkan daerah tersebut dalam kekuasaan Majapahit. Selanjutnya daerah tersebut di beri nama Kadipaten Bintoro serta mengangkat Raden Patah menjadi Adipati Bintoro yang pertama. Dengan cepat Bintoro berkembang dan berganti nama kembali menjadi Demak. Lanjutkan membaca ‘Awal Terbentuk nya Kadilangu (Demak)’

22
Jan
11

Cerita Rakyat: Ikan Kuthuk dan Ular Air

Ditulis oleh: Fairuzul Mumtaz (Pengamat Sastra dan Musik)

Ini cerita yang saya dengar sewaktu kecil. entah kebenarannya. namun sebagian penduduk sekitar mempercayainya, hingga saat ini. begitulah budaya kita, dan begitulah mitos dan cerita rakyat beredar. kisah ini berlatar di desa Babalan, Wedung, Demak. saya tuliskan kembali agar tak lekang dari ingatan.

ayo! tulis sejarah kampung sendiri. yakinlah, kelak akan bermanfaat.

BENTUKNYA seperti ikan gabus, tapi penduduk desa menyebutnya ikan kuthuk. Tidak ada yang istimewa dari penampakan luarnya, seperti ikan-ikan lainnya. Hanya saja bentuk kepalanya lebih mirip ular ketimbang ikan. Dulu, kata penduduk desa, ikan kuthuk selalu bersama-sama dengan ular air. Hingga mereka beranggapan bahwa kedua makhluk itu adalah suami dan istri. Ular air sebagai suami dan ikan kuthuk sebagai istrinya.

Anggapan itu semakin nyata. Penduduk desa tak ada yang berani menangkap ikan kuthuk karena takut akan didatangi ular air, meski ikan itu sudah berada dalam jaringnya. Lebih baik melepasnya daripada diri atau anggota keluarganya didatangi suami ikan itu, si ular air. Lebih baik tidak dapat hasil daripada menangkapnya.

Tapi ada juga penduduk yang menangkapnya, meski sudah tahu. Kehidupan yang miskin memaksanya untuk melakukan itu. Tak ada pilihan lain. Seorang penduduk itu membawa beberapa ikan kuthuk pulang ke rumahnya. Sang istri sebenarnya sudah mengingatkan, tapi bantahan dan bentakan sang suami karena kewajiban memberi makan keluarga, membuat sang istri tunduk dan patuh pada perintah sang suami. Lanjutkan membaca ‘Cerita Rakyat: Ikan Kuthuk dan Ular Air’




Statistik Blog

  • 123,256 sejak 14 Februari 2010

Live Info dari Twitter

  • Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak.... fb.me/4pqN16qlT@visit_demak 2 years ago

> Tradisi Buka makam Sunan Kalijaga: Mulai jam 8-12 & 13-17 pada hari tertentu, yaitu Jumat Pon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha.

> Explore Mystery of Demak @ Museum (rvsp: 085727325527)
> once upon a night in demak (jelajah demak) (rvsp: 088802464895)

free D’magz digital magazine

Contact

Advertise

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

RSS Indonesia Kreatif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Translasi ke bahasa?