22
Nov
12

Sepotong Damai di Tanah Burung Hantu

KARANTINA: Beberapa petugas berada di karantina burung hantu (tyto alba) di Desa Tologoweru, Guntur, Demak. (suaramerdeka.com / Bambang Isti)

KETENANGAN saat menyusuri jalan Desa Tlogoweru yang di kanan kirinya menghampar lahan pertanian, tiba-tiba terusik oleh beberapa papan yang bertuliskan larangan untuk menembak burung.

Memang jenis burung apakah yang dilindungi di desa yang berada di Kecamatan Guntur Kabupaten Demak ini? Sehingga hampir di setiap sudut desa papan peringatan itu dipasang secara demonstratif?

Tlogoweru. Bukan sebuah desa di lereng pegunungan yang memungkinkan tumbuhnya habitat berbagai berbagai satwa burung. Tapi Tlogoweru hanyalah sebuah desa di kota Demak, sebuah kota di pesisir utara Jawa.

Seperti kebanyakan desa di Indonesia, mayoritas arealnya ditanami padi dan palawija. Untuk Palawija ini, penduduk paling suka menanam jagung sebagai varian hasil bumi.

Dengan areal 225 hektare yang merupakan lahan pertanian, petani di Tlogoweru memakai pola tanam dua kali panen padi, dan sekali panen jagung. Sehingga keduanya hasil produksinya mencapai 8 ton per hektare.

Namun selama bertahun-tahun, petani desa ini dibuat geram dan kecewa karena 40 persen tanaman padinya rusak dimangsa tikus sawah (raffus argentiventer). Kondisi yang sama juga terjadi pada tanaman jagung dimana 60 persennya habis. Hama tikus yang berkepanjangan terjadi berpuluh-puluh tahun di sini.

Menurut Sutejo, Kepala Desa Tlogoweru, wabah hama tikus sudah berlangsung sejak tahun 60 an. Saat Sutejo menjadi kepala desa menggantikan kades sebelumnya, aksi gropyok tikus pun dilakukan berjamaah oleh warga desa.

“Bahkan saya wajibkan agar semua kepala keluarga setor buntut (tikus) ke kantor desa sebagai bukti aksi perlawanan terhadap hama tikus,” kata Sutejo geram, Selasa (20/11).

Tapi aksi penggropyokan dan setor buntut tikus tak berefek jera pada tikus. Bahkan binatang ini semakin berpesta pora merusak padi dan jagung. Sampai akhirnya Sutejo mencari tahu dari beberapa ahli pertanian, termasuk melakukan googling di internet, dan akhirnya menemukan burung malam (tyto alba) salah satu predator tikus.

Malam Mencekam

Meski letak desa ini ada di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Kota Semarang, tapi berada di Tlogoweru seakan berada di sebuah desa nun jauh di pelosok. Terlebih lagi jika malam hari. Suara koaran burung malam yang serak-serak menyayat semakin mencekam.

Kata Sutejo, itu suara burung malam, yang orang sering menyebutnya sebagai burung serak Jawa.

Burung Serak Jawa (Tyto alba) merupakan spesies burung, dengan ukuran badan besar (34cm). Fisik burung ini mudah dikenali sebagai burung hantu putih, kecoklatan. Wajahnya berbentuk jantung hati, warna putih dengan tepi coklat. Matanya tajam menghadap kedepan, dengan paruh runcing ke bawah merupakan ciri burung malam ini.

Sejak setahun lebih, persisnya akhir tahun 2010, burung-burung hantu ini menjadi sahabat setia warga Desa Tlogoweru. Itu terkait dengan kebiasaan tyto alba memakan tikus.

“Semula kami tidak tahu burung-burung itu, sehingga warga sering menembak mati. Tapi setelah menyadari burung hantu itu bisa diberdayakan melawan hama tikus, kami lantas sepakat melindungi populasinya,” kata Sutejo.

Warga pun lantas membudidayakan tyto alba dengan menyediakan habitat baru berupa rumah burung hantu (rubuha). Yakni semacam pagupon burung dara yang ditempatkan di tengah persawahan, “Burung-burung hantu itu kalau malam hari bisa menyambar puluhan ekor tikus yang merusak tanaman kami, satu burung bisa membunuh 3 sampai 6 ekor,” kata Sutejo.

Kini di areal ladang dibangun 70 rubuha hasil sumbangan beberapa perushaan sekitar desa. Kini di Toloweru terdapat ratusan tyto alba yang beranak pinak selama 1,5 tahun terakhir ini. Burung-burung itu hanya mau makan tikus, binatang lain seperti unggas tidak dimangsa. Itu sebabnya, pihak pedesaan membangun karantina, yaitu semacam laboratorium untuk meneliti dan mengembangkan tyto alba.

Di karantina berukuran 10 kali 4 meter itu tyto alba bisa hidup rukun dengan ayam dan unggas lain. “Ini sebagai bukti brung itu sangat familiar dengan lingkungan,” kata Sutejo.

Populasi tikus yang tinggi di suatu daerah dapat memacu perkembangbiakan populasi Tyto alba secara dramatis. Dan itu terjadi di Desa Tlogoweru. Dalam satu musim kawin individu betina Tyto alba dapat menghasilkan telur sebanyak 3 – 6 butir (terkadang dapat mencapai 12 butir) dalam interval 2 hari.

Hitungan Detik

Menurut Wikipedia, strategi perburuan dari Tyto alba sangat berbeda dengan jenis-jenis burung predator yang lain. Burung-burung predator lain, mengandalkan kecepatan dan kejutan untuk mendatangi dan menangkap mangsa.

Kelebihan dari berbagai indera yang dimiliki tyto alba, membuat calon mangsa tak menyadari dirinya terancam terbunuh. “Burung hantu itu bisa langsung menukik dan menyambar tikus dalam hitungan detik. Atau merunduk diam-diam menunggu tikus keluar dari sarangnya, begitu badan tikus sedikit keluar, habislah si tikus itu,” kata Sutejo.

Burung malam predator tikus ini memiliki kebiasaan makan yang unik. Tapi juga tergantung ukuran mangsa yang tertangkap. Yakni tyto alba bisa menelan utuh mangsanya atau membaginya dalam ukuran yang lebih kecil sebelum ditelan.

Daging dan bagian yang lunak dari tubuh mangsa akan dicerna, sementara bulu-bulu dan tulang belulang tidak dicerna dan kemudian secara berkala dimuntahkan kembali.

Selepas isya, kami berempat, saya, pak Kades, Sukemi dan Ahmad (dua yang terakhir ini perangkat desa) berada di sebuah gasebo sederhana yang dibangun pemerintah desa.

Gasebo itu berfungsi sebagai pos pemantau yang berada tak jauh dari karantina. Dan sekelilingnya terdapat rubuha-rubuha yang berada di persawahan dan di beberapa pohon. Dan di gasebo itulah kami berempat ditemani kopi, tempe dan tahu goreng, serta rokok sebagai penghangat badan.

Semalaman menunggui peristiwa dramatik saat predator memangsa tikus, terasa mencekam juga. Suara burung yang menderit dan mengkoar dengan serak-serak di tengah sepinya malam di sebuah desa seperti ini, memaksa saya untuk kembali ke rumah.

Tapi dramatisasi yang bakal terjadi sayang untuk ditinggalkan begitu saja. Itu sebabnya sejak desa ini mengembangkan populasi tyto alba, banyak orang dari luar kota berdatangan, untuk bisa menyaksikan dan belajar budidaya tyto alba.

Belum Siap

Sejak melindungi burung hantu, Tlogoweru jadi lebih hidup. Inilah yang sebenarnya membuat perangkat desa merasa belum siap untuk menjamu tamunya terkait dengan kondisi infrastruktur yang tidak mendukung.

Warga sebenarnya lebih mengharapkan bantuan pemerintah berwujud pembangunan infrastruktur, yakni perbaikan jalan, karena akhir-akhir ini wilayahnya sering kedatangan tamu-tamu dari luar kota yang menggunakan angkutan besar seperti bus untuk melihat proyek burung hantu itu.

“Ya kami hanya ingin pemerintah (Pemkab Demak) memperbaiki jalan sehingga akses ke Tlogoweru lebih mudah, karena selama ini rusak dan sempit,” kata Sutejo.

“Nanti kami juga akan sediakan homestay, sebagai tempat tinggal, jika pengunjung ingin melihat proses predator itu saat memangsa hama tikus sebagai sebuah tontonan yang dramatis. Dan kejadiannya hanya bisa dinikmati malam hari,” kata Sutejo.

Memang kedepannya, terkait dengan proyek predator tikus itu, pemerintah desa berharap wilayahnya bisa menjadi kawasan desa wisata. Untuk itu pihaknya telah bersiap untuk melakukan sosialisasi pada warga agar lebih sadar wisata dengan menyediakan wisata kuliner dan oleh-oleh khas Demak, misalnya ikan kering.

Pemkab Demak mestinya berbangga dengan keberadaan penangkaran tyto alba ini, karena di Indonesia baru ada beberapa, diantaranya di Kabupaten Ngawi, dan Medan.

Berharap dari pemerintah yang lebih banyak retorika, tentu akan membuang-buang waktu. Di saat sekarang, dengan swadaya warga, Tlogoweru pun sudah menggeliat dengan caranya sendiri.

Dengan dikembangkannya burung predator tersebut, untuk sementara terselesaikan sudah masalah hama. Dengan memberdayakan burung hantu, Tlogoweru tahun ini berhasil menyelamatkan sekitar Rp 7,4 miliar hasil tanaman padi dan jagung.

Tlogoweru dengan sekitar 900 kepala keluarganya, kini terasa damai. Dan saya menjadi maklum, tidak kaget lagi dengan papan peringatan, agar melindungi satwa burung hantu yang bertebar di seluruh pelosok Desa Tologoweru. Di desa itu, orang tak mengira warganya begitu perduli dengan populasi burung hantu yang termasuk dilindungi keberadaannya.

Oleh Bambang Isti

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2012/11/21/969/-Sepotong-Damai-di-Tanah-Burung-Hantu

Iklan

0 Responses to “Sepotong Damai di Tanah Burung Hantu”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Statistik Blog

  • 117,016 sejak 14 Februari 2010

Live Info dari Twitter

  • Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak.... fb.me/4pqN16qlT@visit_demak 1 year ago

> Tradisi Buka makam Sunan Kalijaga: Mulai jam 8-12 & 13-17 pada hari tertentu, yaitu Jumat Pon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha.

> Explore Mystery of Demak @ Museum (rvsp: 085727325527)
> once upon a night in demak (jelajah demak) (rvsp: 088802464895)

free D’magz digital magazine

Contact

Advertise

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

RSS Indonesia Kreatif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Translasi ke bahasa?