28
Okt
11

> Makam Syech Abdullah Mudzakir yang Dikelilingi Laut Sayung

Warga di wilayah Kecamatan Sayung, kemarin menggelar haul Syech Abdullah Mudzakir. Mereka menapaktilasi sekaligus mengenang perjuangan auliya’ yang makamnya terletak di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung itu.

Makam Scyech Abdullah Mudzakir berdiri atas air laut yang dipisahkan dengan daratan, yakni Pulau Blekok. Haul yang ditandai dengan tahlil dan baca doa bersama diikuti tokoh masyarakat setempat, serta para santri dari beberapa pondok pesantren di wilayah Sayung.

Untuk menuju ke makam itu, warga ada yang naik perahu dari Pantai Morosari. Ada pula yang berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang menghubungkan Desa Bedono dengan dukuh Tambaksari. Jalannya makin mengecil lantaran tergerus abrasi air laut.

Panitia haul Naim Anwar mengungkapkan, Syech Mudzakir merupakan sosok pejuang atau ulama besar di zamannya, dan telah melegenda hingga kini.

Karena itu, apa yang pernah di lakukan menumbuhkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin di bumi jawa patut diapresiasi, termasuk melalui kegiatan haul.

Cerita rakyat setempat mengungkapkan, Syech Abdullah Mudzakir adalah seseorang pejuang kemerdekaan di zamannya. Ia hidup antara 1.900 hingga 1960-an. Ia berasal dari kampung Wringinjajar, Kecamatan Mranggen kemudian menetap dan menumbuhkan ajaran Islam di pesisir Pantai Sayung itu.

Yang bersangkutan masih satu angakatan dengan Kiai Tohir (Mbah Tohir) yang kini dimakamkan du Dusun Nyangkringan, Desa Sriwulan Sayung. Keduanya disebutkan pernah menjadi murid atau santri Kiai Sholeh Darat, Semarang.

Cerita lain menyebutkan, Kiai Tohir berasal dari Gujarat India. Dalam prantauannya, ia sempat terdampar di Semarang. Kemudian, dalam perjalannanya bertemu dengan Syech Mudzakir yang sama-sama berguru di Syech Sholeh Darat. Usai berguru itu, keduanya berpencar dalam berdakwah. Meski demikian, tempat tinggal mereka tidak berjauhan.

Untuk mengenang perjuangan Syech Mudzakir itu, setiap akhir bulan Dzulqo’dah seperti saat ini, warga beramai-ramai mengadakan haul di makam tengah laut ini. Di sana, warga berdoa dan berharap pada Allah SWT agar mereka diberikan keselamatan dan dijauhkan dari bencana.

Sumber: Jawa Pos

Iklan

5 Responses to “> Makam Syech Abdullah Mudzakir yang Dikelilingi Laut Sayung”


  1. November 22, 2011 pukul 8:56 am

    mohon di terbitkan kisah masa hidupnya biar generasi kita tahu kisah p[erjuangannya pada masa lalu

  2. Februari 1, 2012 pukul 9:26 am

    KH. Abdullah Mudzakir yang lebih dikenal oleh masyarakat Sayung dengan sebutan Mbah Mudzakir, memang sosok pejuang sebagaimana diungkapkan oleh Guru saya almaghfurlah KH. Ali Syafi’i (Habib Ali Bin Muhammad Al-haddad) Pendiri Po Pes Nahdlatusy Syubban Sayung, namung sayangnya Pemerintah belum menganugerahi jasanya sebagai Pahlawan. mengenai asal beliau dari Dukuhan Desa Kalisari Sayung, beliau Putra Mbah Ibrahim Suro yang masih keturunan P. Diponegoro, memang dari ibunya beliau masih keturunan Mbah Shodiq Jago Wringinjajar, dan masih keturunan Sunan Bayat. Sedangkan Mbah Thohir, wali Pejuang yang juga belum dianugerahi sebagai Pahlawan membangun masjid saja tahun 1875, sedangkan Mbah Mudzakir wafat tahun 1950, jadi saya rasa tidak semasa.

  3. Februari 1, 2012 pukul 9:52 am

    KH. Abdullah Mudzakir yang lebih dikenal oleh masyarakat Sayung sebagai Mbah Mudzakir memang pejuang kemerdekaan di wilayah Sayung dan sekitarnya sebagaimana disampaikan oleh Guru saya KH. Ali Syafi’i (Habib Ali Bin Muhammad Al-haddad) Pendiri Pon Pes Nahdlatusy Syubban Sayung, namun belum mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan oleh Pemerintah. mengenai asal beliau dari Kampung Dukuhan Desa Kalisari Sayung, dari ayah Mbah Ibrahim Suro yang masih keturunan Pangeran Diponegoro, sedangkan Ibunya memang keturunan Mbah Shodiq jago Wali dari Wringinjajar Mranggen dan masih keturunan Sunan Bayat. Sedangkan masa hidupnya saya kira tidak semasa dengan mbah Thohir, Wali yang menjadi pejuang menentang Belanda dan belum diakui pula sebagai pahlawan oleh Pemerintah yang dimakamkan di belakang masjid Nyangkringan Desa Sriwulan, sebab mbah Mudzakir wafat tahun 1950, sedangkan mbah Thohir membangun masjid saja tahun 1875, namun demikian mungkin saja Mbah Mudzakir waktu kecil pernah bertemu dengan mbah Thohir yang sudah Tua.

    • April 16, 2012 pukul 6:00 pm

      wadduh versinya sjrah’a kq beda” y.
      kalau lahirnya mbah mudzakir itu tahun dan tgl brapa y?
      sayang sekali tidak ada yg punya foto beliau…

  4. Mei 22, 2014 pukul 4:58 am

    Sungguh artikel tentang Mbah Mudzakir ini akan banyak manfaatnya. Amien.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Statistik Blog

  • 125,679 sejak 14 Februari 2010

Live Info dari Twitter

  • Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak.... fb.me/4pqN16qlT@visit_demak 2 years ago

> Tradisi Buka makam Sunan Kalijaga: Mulai jam 8-12 & 13-17 pada hari tertentu, yaitu Jumat Pon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha.

> Explore Mystery of Demak @ Museum (rvsp: 085727325527)
> once upon a night in demak (jelajah demak) (rvsp: 088802464895)

free D’magz digital magazine

Contact

Advertise

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

RSS Indonesia Kreatif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Translasi ke bahasa?