10
Okt
11

> Karmono, Penemu Jambu Unggulan Demak Merah Delima, Kandele Tikel Lima

  • Oleh Hari Santoso

 

Kawasan Kelurahan Betokan di Kecamatan Kota Demak terkenal dengan julukan Kampung Jambu dan Belimbing. Kiprah Karmono tak bisa diabaikan saat membicarakan pembudidayaan buah-buahan yang menjadi ikon kota wali tersebut.

BEKERJA sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sejak 1970 tak membuat Karmono kehilangan naluri petani. Profesi pendidik tetap dia jalani, namun kegemaran mencangkul di kebun tak berhenti.

”Saya memang tak bisa lepas dari sabit dan cangkul sedari kecil. Alat-alat yang lumrah dipakai kadang tani di pedesaan itu menyemangati saya untuk memperoleh tambahan penghasilan sekaligus menekuni hobi bercocok tanam. Saya berkebun seusai mengajar di sekolah,” ujar pria berusia 64 tahun itu di rumahnya di tepi Sungai Betokan, beberapa waktu lalu.

Aktivitas Karmono berkebun memang tak terlepas dari kondisi penghasilan PNS saat itu. Gaji guru SD yang minim, dengan beban lima anak di pundak, membuatnya harus memutar otak untuk menambah pendapatan.

Tak hanya bercocok tanam, Karmono muda pernah membudidayakan lele dan udang. Pada 1983, minatnya tertuju pada buah belimbing yang memang akrab bagi masyarakat Demak.

Konon, buah yang bernama latin Averhoa carambola ditanam sejak masa Kesultanan Demak. Namun, pada 1990-an, Karmono mulai meninggalkan pembudidayaan belimbing seiring tren belimbing hanya dua kali setahun, jambu mampu berbuah tiga kali. Bahkan dapat pula dipetik di luar musim.

Produktivitas jambu rata-rata 900 kg-1,4 ton per hektare setiap tahun. Adapun belimbing 500 kg-700 kg per hektare setiap tahun. Situasi ini membuat Karmono dan petani lain melirik budidaya jambu.

Kejayaan jambu Betokan mulai muncul pada 1997 disusul penamaan jenis merah delima. ”Delima itu singkatan dari kandele tikel lima atau tebalnya buah lima kali lipat dibanding jambu air biasa,” kenang Karmono mengingat asal-usul penyebutan nama buah belasan tahun silam.

Benih jambu air biasa, yakni jambu yang kali pertama ditanam di kebun, dibeli Karmono pada 1990 dari petani di kampung Krapyak Kelurahan Bintoro Kota. Dia berbekal uang Rp 16.000 untuk membeli empat cangkokan benih seharga Rp 4.000 per batang.

Keempatnya kemudian ditanam di kebun. Ternyata ikhtiar mendapatkan jambu yang manis, renyah, dan kaya air tidak gampang. Pada panen pertama, rasa jambu kurang manis bahkan sepet  (pahit dan asam) dengan ukuran buah yang kecil tak menarik.

Berbagai eksperimen dicoba Karmono agar hasil panen sesuai idaman, termasuk pemupukan berimbang. Pemupukan itu mencakup pemberian unsur NPK yang diselingi kompos di awal tahun pertama.  Usaha mendapatkan jambu dengan cita rasa manis akhirnya terwujud. Setelah dua tahun menanam jambu, jerih payah Karmono mulai kelihatan.

Empat pohon miliknya berbuah lebat. Jambu ranum merah tua dengan buah tebal itu kemudian dinamai jambu merah delima oleh Karmono. Soal penamaan ”delima”itu, ada pula yang menyebutnya sebagai singkatan dari ”kandel iman marang Allah (ketebalan iman kepada Allah)”, merujuk pada tumbuh dan berkembangnya buah jambu di Kota Wali.

Dibagikan Gratis

Pada kesuksesan awal tahun 1992 tersebut, Karmono menerima keuntungan sekitar Rp 700.000. Dalam ingatannya, 1 dolar AS saat itu masih setara Rp 1.500.  Keuntungan yang diperoleh digunakan Karmono untuk membayar uang kuliah anak-anaknya. Dia pun tak berhenti memanjatkan syukur.

Potensi tanaman jambu dengan keuntungan berlipat membuat tetangga kanan-kiri tertarik. Karmono pun berbaik hati. Ilmu membudidayakan jambu merah delima ditularkan cuma-cuma. Dia bahkan membuat belasan cangkokan yang dibagikan gratis lantaran cukup senang jambu berbuah lebat.

Sejak itu, warga Betokan beramai-ramai menanam jambu varietas merah delima di pekarangan, kebun, bahkan sawah. Panen jambu mereka nikmati setelah masa penanaman 3-4 tahun. Jambu delima dalam perkembangannya mampu memperoleh sertifikat mutu dari pemerintah pusat disertai label halal layak dan aman dikonsumsi.

Sertifikasi memungkinkan petani Betokan mengekspor buah yang manis dan kaya air tersebut ke sejumlah negara. Pemberian sertifikasi juga memberi kepastian kualitas jambu yang akan diekspor.

Sementara itu, di kebun seluas hampir 2.000 meter persegi, Karmono ditemani sang istri, Ramsyiah (60) yang juga pensiunan guru SD, terus mengembangkan pembudidayaan jambu dan belimbing. Dalam lima tahun terakhir, dia mampu menciptakan varietas baru yang memungkinkan dalam satu pohon terdapat tiga jenis jambu.

Ketiganya adalah jambu hijau, merah delima, dan citra. Jenis jambu hijau jamak ditemukan di banyak tempat.

Adapun jambu citra muncul belakangan setelah kehadiran merah delima. Khusus jambu ini, Karmono belajar dari orang lain. Bibit satu pohon dengan tiga jenis jambu setinggi 80 sentimeter itu dijual Rp 75.000 per batang agar terjangkau warga.

Pengalaman pensiunan guru yang pernah mengajar di lima SD itu menarik perhatian banyak kalangan. Kakek enam cucu tersebut kebanjiran tamu dari berbagai daerah dalam satu dasawarsa terakhir.

Mereka datang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahkan ada yang berasal dari Papua. Para tamu itu ingin menimba ilmu dari Karmono untuk diterapkan di daerah asal.

Karmono disebut-sebut pernah masuk dalam daftar nomine penerima anugerah Kalpataru Lingkungan di era Presiden Soeharto. Dia juga baru saja terpilih sebagai pemenang penghargaan salah satu bank swasta terkemuka sebagai pejuang pelestari lingkungan.

Pihak bank bahkan sudah mengunjungi dan mencermati langsung sosok Karmono yang lekat dengan jiwa bertani. Seorang mantan pendidik yang di usianya senjanya melewati waktu dengan menimang cucu setelah seharian berkebun.

Berkat Karmono yang mengaku menerapkan prinsip othak-athik gathuk (mencoba-coba) itu pula kini hampir setiap warga Betokan memiliki pohon jambu di pekarangan rumah. Pohon yang berdaun lebat membuat kampung ini asri, rindang, dan nyaman. ”Saya bahagia karena yang saya lakukan ini bermanfaat bagi orang lain, bukan hanya bagi saya dan keluarga,” tutur Karmono bersahaja. (65)

Sumber: Suara Merdeka

Iklan

2 Responses to “> Karmono, Penemu Jambu Unggulan Demak Merah Delima, Kandele Tikel Lima”


  1. 1 aji
    Desember 9, 2011 pukul 4:16 pm

    Artkel ini sangat menarik baik tokohnya maupun apa yg beliau lakukan. Saya juga tertarik untuk mendapatkan bibit jambunya bisakah dibantu no telepon pak Karmono? terimakasih

  2. Februari 6, 2012 pukul 7:35 am

    Bagus berita ini. Judulnya jenaka. Hehehe. Semoga Demak terus maju…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Statistik Blog

  • 125,679 sejak 14 Februari 2010

Live Info dari Twitter

  • Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak.... fb.me/4pqN16qlT@visit_demak 2 years ago

> Tradisi Buka makam Sunan Kalijaga: Mulai jam 8-12 & 13-17 pada hari tertentu, yaitu Jumat Pon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha.

> Explore Mystery of Demak @ Museum (rvsp: 085727325527)
> once upon a night in demak (jelajah demak) (rvsp: 088802464895)

free D’magz digital magazine

Contact

Advertise

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

RSS Indonesia Kreatif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Translasi ke bahasa?