16
Agu
11

> Baruklinting & Nyai Lembah (bagian 1)

DIAWALI dengan puja semedi Sang Ratu Shima, penguasa kerajaan Tertua di pulau Pulau Jawa, Kerajaan Kalingga. Di ikutilah petunjuk dari yang maha kuasa untuk segera mendirikan Candi sebagai tempat pemujaan kepada Shang yhang Widhi sebagai penganut Agama Hindu, maka pada suatu hari berangkatlah rombongan pencarian Gunung Suralaya, atau gunung Ngungrungan, atau Gunung Ungaran, disana dipercaya sebagai pesanggrahan para dewa.

foto kompasDalam perjalanan nya sebagai pemimpin rombongan adalah Ki Ajar Salokantoro (Saloka Antara) Seorang pendeta agama hindu yang Tampan rupawan dan gagah perkasa. Pada suatu tempat sang Begawan melarang untuk melakukan apapun, pada tempat tersebut di namakan Dusun Larangan, kemudian dalam perjalanan lebih keatas lereng gunung tersebut ada tempat yang berbau harum, yang dinamakan dusun Darum, dan sampailah pada tempat yang dituju disana Rombongan melakukan Puja Semedi dengan Munutup Babahan Hawa Songo (sembilan lubang pada Tubuh Manusia) atau Nggedong Babahan Howo Songo (Nggedong Artinya Mengikat=Nggedong Bayi) maka sampai sekarang nama tersebut terkenal dengan nama Gedong Songo.

Dimulailah pembuatan Candi, dalam proses pembuatan candi didisain Candi 1 berjumlah 1 Candi ke 2 berjumlah 2 Candi ke tiga berjmlah 3 dan sampai candi ke Delapan berjumlah 8 candi, dengan sistem ada Candi Induk dan Candi perwara, dalam rombongan mensertakan beberapa dayang dan tukang masak, sebagai Lurah dayang bernama Roro Ari Wulan (Ari = matahari, Wulan = Bulan) Seorang lurah dayang bergelar Matahari dan Bulan adalah sang Ratu Sima Sendiri. Dipesankan jangan memangku pisau (hanya kata sandi) maka Roro Ari Wulan terjadilah Hamil karena melanggar pesan Kisalokantoro. Maka pada bulan yang ditentukan Putra Sang Ratu Shima. Diberilah nama Bra Klinting. Pada saat Roro Ari Wulan hamil Ki salokantoro pergi meninggalkan Gedong songo yang kurang candi ke Sembilan menuju pertapaan di gunung Telomoyo.

Pada suatu hari Bra Klinting bertanya pada ibunya.

BK : Duh kanjeng ibu aku kok tidak pernah melihat Kanjeng Romo, seperti anak2 yang lain, apakah aku tidak punya Romo Kanjeng Ibu?
RAW : Apakah sebabnya ananda selalu menanyakan hal ini?
BK : Buat kesempurnaan hidup ananda, kanjeng ibu, apakah kanjeng ibu tidak Nelangsa melihat Kawontenan Kulo. Engkang Wujud Taksoko.
RAW : Duh Ngger putraningsun, kalau memang begitu tujuanmu pun ibu hanya dapat memberi bekal Sumping buat pertanda bahwa ananda adalah Putraku Bra Klinting.
BK : Duh Kanjeng Ibu Sembah Sungkem Pangabekti saya haturkan tuk Kanjeng, dan ananda mohon pamit untuk mencari Ayahanda untuk menuju kesempurnaan Hidup saya.
RAW : Joyojoyo wijayanti Apapun keinginanmu aku mohonkan kepada Shangyang Widhi agar semua niat baikmu dapat terlaksana.
    (baru klinting menghaturkan sembah tiga kali yaitu masih duduk, mau berjalan dan sampai di depan pintu, baru berbalik meneruskan langkahnya). 
RAW : Demi keselamatan ananda harus melewati jalan dibawah tanah, agar tidak bertemu manusia.
BK : Sendika melaksanakan semua pesan Ibunda.

Dalam perjalanan Baru Klinting beberapa kali keluar didaratan untuk melihat sudah sampai dimanakah? Pada waktu yang sudah ditentukan sampailah baru klinting di pucak Gunung Telo Moyo, disanalah Ki Ajar Salokantoro bersemedi.

Bartemulah Baruklinting dengan Ki Ajar Salokantoro.

KAS : Hai siapakah anda perwujudan Taksoko (Ular Besar) hadir menemuiku ada kepentingan apakah?
BK : Duh Sang Pertapa saya bernama Bra Klinting, saya putra Kanjeng Ibu Roro Ari Wulan. Dari Gedong Songo.
KAS : Siapa Roro Ari Wulan itu? (pura 2 tidak tau)
BK : Beliau adalah Kanjeng Ibu Ratu Shima, dari Kerajaan Kalingga, yang sedang mendirikan Candi Di lereng gunung Suroloyo, dan saya diberikan tanda berupa Sumping di telinga saya ini.
KAS : Ha ha ha.Hem… ( salokantoro terdiam sejenak sambil memandangi dengan saksama sumping Bra Klinting)

Terdengar alunan rebab dan seruling mengiringi kesunyian yang terjadi di puncak Telomoyo. Dan kemudian

KAS : Saya adalah seorang Pendeta dapat dikatakan engsun adalah Orang Suci dan tidak menikah, hanya karena Nasehat saya tidak diindahkan Oleh Ibundamu kenapa saya yang harus Mengakuimu sebagai anakku? (dengan nada bertanya) Pada kenyataanya wujudmu bukan Manusia bagaimana mungkin aku memiliki anak berwujud Ular.
BK : Mohon maaf Sang ajar, Semua yang diceritakan Kanjeng ibu kepada saya adalah kebenaran.
KAS : Ya…. Kebenaran itu dapat menurut kamu, tapi belum benar menurut aku
Manurut ingsun Kalau manusia dengan manusia harus punya anak berwujud manusia.
BK : Apakah Kiajar menginginkan pembuktian agar panjenengan percaya bahwa saya adalan Putramu.
KAS : Ya tentu saja, Kalau kau benar2 putraku, Walau kamu tidak punya tangan, coba ambilkan saya Air dari pantai selatan dengan Keranjang MotoEro.
BK : Ya kiAjar saya mohon Doa Restunya semoga semua persyaratan yang KiAjar ajukan kepada saya dapat terlaksana.

(Bra Klinting menghaturkan Sembah dan pergi mencai air dari pantai selatan dengan menggunakan keranjang motoero (keranjang yang lubangya sangat besar-besar.)

Bledug KuwuDalam perjalanan menuju pantai selatan Bra Klinting Lewat jalan bawah tanah. Setelah berhasil mendapatkan air pantai selatan Bra Klinting pulang tetapi dalam perjalananya salah arah menuju ke timur. Setelah keluar kedaratan ternyata sampai sebelah timurnya Gunung Lawu perjalanan sudah terlewat terlalu jauh yaitu sampai di Bleduk Kuwu (sumber air garam di kuwu terhubung dengan pantai selatan) dan sampai sekarang di Bleduk Kuwu terdapat sumber Garam ditengah2 daratan.

Karena salah arah Bra Klinting membuang semua isi keranjangnya dan kembali lagi ke pantai selatan lewat jalan semula agar lebih mudah, baru kemudian mengambil air dan pulang menuju puncak Telomoyo.

BK : Ki Ajar Saya datang memenuhi permintaanmu.
KAS : Yo..Yo..Mari Bra Kliting silahkan masuk. (Setalah Bra Klinting masuk)
Bagaimana kabar perjalananmu setelah sekian tahun mencari Air dari pantai selatan? Apakah menemui Rintangan dan kesulitan?
BK : Atas berkah pangestu KiAjar Semua pekerjaan saya berhasil. Hanya pernah sekali tersasar sampai sebelah timurnya Gunung Lawu.
KAS : Ya ..KiAjar tahu tentang perjalananmu, tetapi Kalau kamu tetap Ingin aku akui sebagai anaku kamu Harus Dapat berubah Ujud menjadi Manusia.
BK : Ya ki Ajar, Saya siap melaksanakan perintahmu, Tetapi bagaimana caranya, mohon petunjuk Ki Ajar.
KAS : Caranya Kamu harus Bertapa Melingkari gunung ini dengan tubuhmu, Sampai ekor dan kepalamu dapat bertemu dan dapat ajur ajer dengan manusia lainnya.

Pada saat itu Bra Klinting ingin sesegera mungkin diakui sebagai Putra Ki Ajar Salokantoro, maka dililitlah Gunung Telomoyo dengan tubuhnya, karena tidak mencukupi diperintahkanya untuk menyambung dengan lidahnya.

BK : Ini lho kanjeng Romo hampir Cukup!!! (Bra Klinting kegirangan)
KAS : Cukup apa ,…? Kalau begitu itu namanya Curang (dengan serta merta lidah Bra Klinting Ditebas Oleh Ki Ajar Salokantoro)
     

Kemudian potongan lidah tersebut menjelma mejadi berbagai pusaka yang nantinya dimiliki raja-raja tanah jawa seperti yaitu Tumbak Kyai Pleret (pusaka yang dipegang oleh keturunan mataram), Kyai Naga kasur (pusaka yang dipegang oleh keturunan Ki Ageng Selo), Nyai Sentonini & Kyai Sentono (pusaka yang dipegang oleh keturunan Pajang), dan terkhir Kyai Nagasasra (pusaka yang seharusnya dipegang oleh keturunan Demak). Dan tubuh Bra Klinting tetap disitu sebagai pertapa sampai pada jaman yang ditentukan.

-bersambung-

>> Selanjutnya: Baruklinting & Nyai Lembah (Sayembara Mencabut Lidi)

Iklan

1 Response to “> Baruklinting & Nyai Lembah (bagian 1)”


  1. 1 ardhian a.r
    Agustus 17, 2011 pukul 1:26 am

    wah jadi penasaran ma part 2 nya nich…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Statistik Blog

  • 118,528 sejak 14 Februari 2010

Live Info dari Twitter

  • Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak.... fb.me/4pqN16qlT@visit_demak 1 year ago

> Tradisi Buka makam Sunan Kalijaga: Mulai jam 8-12 & 13-17 pada hari tertentu, yaitu Jumat Pon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha.

> Explore Mystery of Demak @ Museum (rvsp: 085727325527)
> once upon a night in demak (jelajah demak) (rvsp: 088802464895)

free D’magz digital magazine

Contact

Advertise

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

RSS Indonesia Kreatif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Translasi ke bahasa?