22
Jan
11

Cerita Rakyat: Ikan Kuthuk dan Ular Air

Ditulis oleh: Fairuzul Mumtaz (Pengamat Sastra dan Musik)

Ini cerita yang saya dengar sewaktu kecil. entah kebenarannya. namun sebagian penduduk sekitar mempercayainya, hingga saat ini. begitulah budaya kita, dan begitulah mitos dan cerita rakyat beredar. kisah ini berlatar di desa Babalan, Wedung, Demak. saya tuliskan kembali agar tak lekang dari ingatan.

ayo! tulis sejarah kampung sendiri. yakinlah, kelak akan bermanfaat.

BENTUKNYA seperti ikan gabus, tapi penduduk desa menyebutnya ikan kuthuk. Tidak ada yang istimewa dari penampakan luarnya, seperti ikan-ikan lainnya. Hanya saja bentuk kepalanya lebih mirip ular ketimbang ikan. Dulu, kata penduduk desa, ikan kuthuk selalu bersama-sama dengan ular air. Hingga mereka beranggapan bahwa kedua makhluk itu adalah suami dan istri. Ular air sebagai suami dan ikan kuthuk sebagai istrinya.

Anggapan itu semakin nyata. Penduduk desa tak ada yang berani menangkap ikan kuthuk karena takut akan didatangi ular air, meski ikan itu sudah berada dalam jaringnya. Lebih baik melepasnya daripada diri atau anggota keluarganya didatangi suami ikan itu, si ular air. Lebih baik tidak dapat hasil daripada menangkapnya.

Tapi ada juga penduduk yang menangkapnya, meski sudah tahu. Kehidupan yang miskin memaksanya untuk melakukan itu. Tak ada pilihan lain. Seorang penduduk itu membawa beberapa ikan kuthuk pulang ke rumahnya. Sang istri sebenarnya sudah mengingatkan, tapi bantahan dan bentakan sang suami karena kewajiban memberi makan keluarga, membuat sang istri tunduk dan patuh pada perintah sang suami.

Di masaklah ikan itu. Baunya sangat harum. Para tetangga heran dengan bau itu. Mereka belum pernah mencium bau seharum itu sebelumnya. Dicarilah bau itu. Ketika ditemukan sumber baunya—di sebuah rumah kecil di ujung desa, sang suami menghadang para penduduk di depan pintu rumahnya sambil duduk di atas kursi.

“Kenapa rumahmu baunya harum sekali?” tanya salah seorang penduduk.

“Ah, tidak apa-apa. Tadi sewaktu aku menyusuri kali, tidak sengaja aku menemukan botolan kecil. Ketika aku bertemu dengan seseorang, aku tanyakan pada orang itu, benda apa yang kutemukan. Minyak zaitun, katanya. Lantas aku bawa pulang saja minyak zaintun itu. Sekarang anak-anakku sedang memakai minyak zaitun.” Kata sang suami, berbohong.

Karena keterangan sang suami itu tidak ragu-ragu dan mantap, karena tidak tahu bau wangi ikan kuthuk dimasak, karena tidak tahu bau wangi minyak zaitun yang sebenarnya, dan lagi pula karena sang suami itu juga dikenal jujur, maka penduduk desa pun mengiyakan apa yang dikatakannya. Bahkan, beberapa ada yang sampai berkomentar, “begitulah kalau orang jujur. Selalu dikelilingi bau yang wangi.”

Siapa yang sangka, setelah lewat malam dari kejadian itu, bau busuk menyengat di hidung tiap penduduk. Berbondong-bondong para penduduk mencari asal usul bau itu. Mereka menemukan bau busuk itu sama tempatnya dengan bau harum yang kemarin mereka temukan. Semakin dekat dengan rumah di ujung desa itu, semakin rapat mereka menutup hidungnya. Tapi kali ini tak ada yang menjaga pintu. Penduduk pun mulai ragu-ragu, kepala mereka mulai dipenuhi tanda tanya.

Dengan berani, seorang lelaki berbadan kekar yang menutup hidungnya dengan sehelai kain, mendobrak pintu rumah itu. Angin yang keluar dari rumah itu membuat beberapa penduduk mual dan muntah-muntah, tapi tidak untuk lelaki berbadan kekar. Ia masuk rumah itu begitu saja, mantap langkah kakinya. Sementara itu, separuh dari penduduk desa sudah pergi, meninggalkan bau busuk dan menyengat itu.

Si lelaki kekar rupanya juga tidak tahan lama di dalam rumah kecil itu. Ia keluar dengan menyebut nama Tuhan sejadi-jadinya sambil matanya meneteskan air mata. Ia bercerita pada penduduk desa bahwa seluruh penghuni rumah itu sudah meninggal. Beberapa bagian tubuhnya hilang. Ia juga menemukan jejak-jejak ular di lantai rumah beralas tanah dan kepala ikan kuthuk berserakan di atas meja makan.

Sejak saat itu, ketakutan penduduk desa semakin kuat. Jika musim hujan datang, saat di mana ikan kuthuk muncul ke permukaan air kali, para penduduk mencari pekerjaan lain, menghindari bahaya yang dapat mengancam mereka sewaktu-waktu.

***

Suatu kali, hujan datang dengan derasnya. Air laut naik. Banjir terjadi di desa itu. Banjir yang di sebabkan oleh pasang laut dan guyuran hujan. Rumah-rumah tenggelam. Binatang-binatang entah bagaimana nasibnya. Tak terkecuali ikan kuthuk dan ular air.

Ketika banjir dan arus air begitu deras, semua makhluk berkumpul sesuai dengan jenis, mencoba menyelamatkan sejenis mereka sendiri. Manusia dengan manusia, Kambing dengan kambing, kerbau dengan kerbau, ikan dengan ikan, ular dengan ular. Manusia terpisah dari manusia lainnya, orangtua terpisah dari anaknya, kambing terpisah dari kelompoknya, kerbau terpisah dari kawanannya, ikan kuthuk terpisah dari ular air.

Kesedihan melanda seluruh desa. Tak hanya manusia, seluruh hewan yang hidup di desa itu juga turut bersedih. Tapi kesedihan itu rupanya tak dirasakan oleh ikan kuthuk dan ular air. Mereka seperti hilang ingatan, tak lagi bersama-sama, dan tak saling bersentuhan. Bahkan, beberapa ada yang saling bertengkar jika berpapasan.

Meski begitu, ketakutan dan kekhawatiran penduduk terhadap kedua makhluk itu tak juga hilang, masih menyelimuti desa kecil di pinggir pantai utara.

***

Beberapa tahun setelah kejadian itu, saat ekonomi penduduk desa sudah pulih dan kegiatan rutin penduduk mulai dijalankan kembali. Datanganlah penduduk baru. Penduduk baru itu memang tidak tahu asal usul desa ini. Tapi sebagai manusia, penduduk baru itu merasa sah-sah aja mencari nafkah di alam terbuka. Termasuk di kali.

Suatu kali, penduduk baru itu menyusuri kali untuk mencari ikan. Sesampainya di ujung kali, ia menemukan tumpukan kayu dan karang yang dihuni begitu banyak ikan. Kenapa penduduk desa tak mau mencari ikan di sini, pikirnya. Dengan menghilangkan dugaan-dugaan dalam hatinya, penduduk baru itu lantas menangkap ikan itu satu per satu. Setelah kantung penampung ikan telah penuh, penduduk baru itu berniat menjualnya ke pasar.

Tapi ia begitu heran melihat reaksi orang-orang di pasar ketika ia membuka kantung ikannya. Pasar pun menjadi sepi tiba-tiba. Berita tentang penduduk baru yang menangkap ikan kuthuk itu secepat kilat menyebar di seluruh penjuru desa. Beberapa penduduk ada yang murka, marah besar, tapi tak cukup berani mendatangi penduduk baru karena takut terlibat urusan dengan ikan kuthuk dan ular air.

Karena tak berhasil menjualnya, penduduk baru itu membawa pulang hasil tangkapannya untuk dimakannya sendiri. Sang istri menyambut, mereka pun memasak hasil tangkapan itu.

Sehari penuh penduduk desa menunggu bau harum yang pernah mereka cium beberapa tahun lalu. Tapi selama seharian itu pula mereka tak mencium bau apa-apa. Pada malam harinya, penduduk desa tak ada yang berani keluar. Mereka mengurung diri di dalam rumah. Jika seharian tadi tidak mencium bau harum, mungkin besok pagi akan tercium bau busuk, batin salah satu penduduk desa.

Keesokan paginya tak ada kejadian apa-apa. Tapi suasana desa itu masih mencekam, menakutkan. Mereka bertanya-tanya, kenapa tidak tercium bau busuk. Dan mereka belum ingin meninggalkan rumah mereka untuk menjalankan aktivitasnya.

Sementara itu, penduduk baru itu keluar rumah, mencari nafkah lagi. Ia melihat pasar masih sepi ketika melewatinya. Suasana desa pun sesepi kuburan di malam hari, padahal matahari sudah kian meninggi. Tapi ia tidak mempunyai perasaan apa pun, ia hanya memenuhi kewajibannya untuk mencari nafkah.

Beberapa hari setelah itu, penduduk desa baru berani meluar rumah dan bekerja seperti biasanya. Beberapa orang masih membicarakannya dan beberapa orang lainnya menganggap tidak terjadi apa-apa. Bahkan, ada yang menyangka bahwa penduduk baru itu memiliki ilmu kanuragan.

***

Sejak saat itulah, para penduduk desa tak lagi takut pada ikan kuthuk dan ular air, meski beberapa ada yang masih meyakini bahwa ikan kuthuk adalah istri dari ular air. Hingga kini, bagi mereka yang percaya, pantang untuk menyentuh ikan kuthuk, tapi bagi mereka yang tidak percaya, kenyang makan ikan kuthuk.

Iklan

3 Responses to “Cerita Rakyat: Ikan Kuthuk dan Ular Air”


  1. Maret 15, 2011 pukul 9:27 am

    Ilmu Kanuragan asalnya dari agama Hindu dibanding Ilmu Laduni dari Zaman Nabi Adam belum ada apa-apanya.

  2. 2 amirul mukminin
    April 16, 2011 pukul 3:50 am

    mas fairuz bener tah ?

    • 3 David Sanjana
      April 18, 2011 pukul 2:30 am

      cerita yg diterima secara turun temurun mas Amirul Mukminin, kebenaran Wallahua’lam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Statistik Blog

  • 118,528 sejak 14 Februari 2010

Live Info dari Twitter

  • Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak.... fb.me/4pqN16qlT@visit_demak 1 year ago

> Tradisi Buka makam Sunan Kalijaga: Mulai jam 8-12 & 13-17 pada hari tertentu, yaitu Jumat Pon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha.

> Explore Mystery of Demak @ Museum (rvsp: 085727325527)
> once upon a night in demak (jelajah demak) (rvsp: 088802464895)

free D’magz digital magazine

Contact

Advertise

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

RSS Indonesia Kreatif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Translasi ke bahasa?