20
Nov
10

Ribuan Warga Saksikan Pawai Minyak Jamas

Puncak tradisi Grebeg Besar Demak ditandai dengan penjamasan pusaka Kutang Onto Kusumo dan Keris Kyai Cerubug, Rabu (17/11), tetap menjadi daya tarik.

Ribuan warga menyaksikan pawai prajurit patangpuluhan yang mengiring minyak jamas dari pendopo kabupaten ke Kadilangu. Mereka bukan hanya warga Demak, namun juga berasal dari Jakarta, Pekalongan, Jepara, Kudus, Semarang bahkan Malaysia.
Konsentrasi kepadatan warga yang menyaksikan pawai minyak jamas terjadi merata di sepanjang jalur yang dilalui rombongan. Sejak dari gerbang pendopo, kawasan Pecinan, Betengan hingga Kadilangu, bahkan sudah dipadati warga sedari pagi. “Setiap tahun saya menyempatkan melihat pawai minyak jamas. Agar tak ketinggalan acara, saya berangkat dari Pekalongan selepas Subuh,” kata Ratna Jumila, warga Pekalongan.

Menurut dia, tradisi Grebeg Besar bukan saja sebagai ikon Demak, namun juga menjadi aset budaya nasional. Karenanya pemerintah harus melakukan berbagai upaya untuk kelestarian budaya tersebut. “Selayaknya prosesi penjamasan berikut dengan pawai minyak jamas ini dipromosikan besar-besaran. Bukan tidak mungkin tradisi ini menjadikan Demak sebagai jujugan wisatawan manca negara,” ujarnya.

Prosesi Penjamasan

Prosesi penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Crubug itu sendiri diawali dengan penyerahan lisah jamas dari Bupati Tafta Zani kepada Lurah Tamtomo yang diperankan Camat Demak Kota, Edi Suntoro. Prosesi tersebut berlangsung di pendopo kabupaten. Dalam kesempatan itu juga digelar tarian Bedoyo Tunggal Jiwo yang dibawakan sembilan gadis cantik.Setelah menerima lisah jamas, Lurah Tamtomo kemudian membawanya menggunakan kereta kuda. Minyak dari pemimpin Demak tersebut dikawal prajurit patangpuluhan.

Dalam perjalanan mereka diiringi dengan berbagai kesenian khas Demak berupa tari barong, zipin dan kuda kepang. Bupati, para kepala SKPD dan jajaran muspida juga ikut dalam iring-iringan itu.Sesampainya di Kadilangu, Lurah Tamtomo yang membawa minyak jamas diterima sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga R Soediyoko, di Pendopo Notobratan. Sementara bupati dan rombongan muspida langsung menuju ke makam Sunan Kalijaga.

Kemudian minyak jamas dibawa rombongan keluarga ahli waris menuju ke makam Sunan Kalijaga. Sebelum melaksanakan penjamasan, terlebih dulu dilakukan tahlil dan doa bersama. Selanjutnya, panitia penjamasan memanggil satu persatu nama-nama yang boleh masuk ke dalam lokasi makam.

Selain Bupati Tafta Zani, di antara nama yang dipanggil adalah Ketua DPRD Demak H Muklasin. “Memang tak semua orang boleh masuk ke dalam lokasi makam. Harap maklum, demi khitmatnya prosesi penjamasan yang boleh masuk hanya para pemimpin Demak,” kata R Soedioko.

Menurut R Soedioko, proses penjamasan Kutang Ontokusumo dan Keris Kyai Crubug harus dilakukan dengan mata tertutup. Hal itu pun telah dilakukan turun-temurun sesuai dengan wasiat Sunan Kalijaga. “Sesuai wasiat beliau maka ahli waris selalu melakukan penjamasan dengan mata tertutup,” ungkapnya.

Tumpeng Songo

Sementara itu, selamatan tumpeng songo (tumpeng sembilan) yang juga merupakan rangkaian prosesi utama dalam tradisi Grebeg Besar, dilaksanakan pada Selasa malam (16/11).

Acara tersebut diawali dari pendopo kabupaten dengan dipentaskannya tari-tarian dan seni rebana. Setelah itu, tumpeng songo yang menggambarkan jumlah wali tersebut dibawa ke Masjid Agung Demak. Bupati Tafta Zani dan rombongan muspida ikut menghantarkan tumpeng songo yang dalam perjalanannya juga diiringi dengan terbangan.Kemudian bupati menyerahkan tumpeng songo ke takmir masjid. Ribuan masyarakat yang bermaksud ngalap berkah telah berjubel di masjid peninggalan para wali tersebut. Mereka juga menyimak mauidloh khasanah yang disampaikan KH Yasin Masadi.

Dalam kesempatan itu bupati mengingatkan kepada masyarakat agar tidak mengkultuskan tumpeng songo. “Kita gelar acara ini semata untuk nguri-uri tradisi warisan leluhur. Nasi untuk tumpeng ini sama dengan nasi yang kita makan sehari-hari. Tidak ada yang istimewa. Jadi jangan percaya kalau nasi tumpeng bisa menjadikan kita kaya dan sebagainya. Hati-hati, jangan sampai kita larut dalam perbuatan syirik,” kata bupati.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini tumpeng dibawa ke halaman luar Masjid Agung Demak usai dilakukan pembacaan doa. Ribuan warga langsung menyerbu tumpeng songo. Mereka berebut nasi atau makanan apapun yang terdapat di tumpeng tersebut.

Sumber: http://www.demakkab.go.id/
Iklan

3 Responses to “Ribuan Warga Saksikan Pawai Minyak Jamas”


  1. 1 Ikha Dalinar Kurnia Putra
    November 20, 2010 pukul 2:15 am

    Maju terus kota DEMAK Tercinta…..
    GO…Go…gOO

    • November 23, 2010 pukul 5:07 pm

      istimewaaaaaaaaaaaaaaaa

  2. Januari 31, 2011 pukul 12:15 am

    Sipp

    danarputra.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Statistik Blog

  • 118,528 sejak 14 Februari 2010

Live Info dari Twitter

  • Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak.... fb.me/4pqN16qlT@visit_demak 1 year ago

> Tradisi Buka makam Sunan Kalijaga: Mulai jam 8-12 & 13-17 pada hari tertentu, yaitu Jumat Pon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha.

> Explore Mystery of Demak @ Museum (rvsp: 085727325527)
> once upon a night in demak (jelajah demak) (rvsp: 088802464895)

free D’magz digital magazine

Contact

Advertise

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

RSS Indonesia Kreatif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Translasi ke bahasa?